Senin, 27 Juli 2015

Pemimpin

Pemimpin

            Hai sob, gue kali ini posting tentang Pemimpin. Apa yang ada di benak kalian kalo mendengar kata pemimpin???  Mungkin Korup, tidak beretika, tidak punya hati nurani, tidak bisa dijadikan panutan, atau saling mencerca / mencaci maki didepan publik. Ya itu masalah kepemimpinan yang kita hadapi saat ini. Namun dibalik semua itu, tentu kita mengharapkan pemimpin yang berakhlak baik dalam semua aspek kehidupan. Lalu, untuk menjadi pemimpin harus punya apa?
1.    Pemimpin harus memiliki kemampuan rethinking future, mampu menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki organisasi kearah masa depan yang lebih cemerlang
2.    Mampu membangun semangat setiap pribadi untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan tujuan
3.    Memiliki semangat dan kesungguhan untuk bersama–sama menyelasaikan masalah secara cepat dan tepat
4.    Ethical Communication, Pemimpin yang beretika akan menetapkan standar kejujuran untuk setiap bawahan yang dipimpinnya
5.    Ethical Quality, memiliki tingkat kompetitifnya suatu organisasi seperti : produk yang berkualitas, pelayanan pelanggan yang berkualitas, dan pengiriman yang berkualitas
6.    Ethical Collaboration, Pemimpin yang bijak berkolaborasi untuk menciptakan best practice, memecahkan masalah, dan menemukan issue-issue yang sedang dihadapi organisasi
7.    Ethical Succession Planning, pemimpin yang berprinsip memiliki/menuntut kebutuhan akan pengendalian, ia akan memenuhi kebutuhan tersebut dengan menciptakan standar organisasi dan prosedur operasi untuk kualitas dan komunikasi yang kuat
8.    Ethical Tenure, Berapa lamakah seharusnya seorang pemimpin memimpin  organisasinya?
Pemimpin yang aik adalahpemimpin yang memiliki hati nurani, memiliki visi, menjadi panutan dan semangat. Terus kalo bedanya manajer dan pemimpin apa ya? Nah ini bedanya sob.
No.
Manager
Leader
1.
Mengelola
Menginovasi
2.
Tiruan
Original
3.
Mempertahankan
Mengembangkan
4.
Berfokus Pada  Sistem
Berfokus pada orang
5.
Bergantung Pada Pengawasan
Membangkitkan kepercayaan
6.
Melihat Jangka Pendek
Melihat Persfektif Jangka Panjang
7.
Bertanya Kapan dan Bagaimana
Bertanya Apa dan Mengapa
8.
Melihat Hasil Pokok
Menatap Masa Depan
9.
Meniru
Melahirkan
10.
Menerima Status Quo
Menentangnya
11.
Prajurit yang Baik
Dirinya Sendiri
12.
Melakukan hal-hal Dengan Benar
Melakukan Hal-Hal yang Benar




Senin, 13 Juli 2015

Korupsi

Korupsi
            Hai sob, wah udah mau hari raya idul fitri aja nih. Sobat semua, mohon maaf lahir dan batin ya jika selama ini saya ada salah kata dalam postingan saya karena sejujurnya saya hanyalah manusia biasa. Bicara tentang hari raya idul fitri pasti banyak berita tentang mudik lebaran atau pulang ke kampung halaman bagi para perantau. Oh ya, berbicara tentang mudik semoga teman-teman semua yang kembali ke kampung halaman selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke daerah rantauannya dengan selamat juga.
            Berbicara tentang pulang kampung tentu membutuhkan uang yang banyak bukan? Pertama untuk ongkos pulang kampung, kedua untuk beli buah tangan atau oleh-oleh, ketiga untuk bagi-bagi THR bagi sanak keluarga di kampung halaman. Nah karena himpitan kebutuhan ini, banyak dari kita yang melakukan pelanggaran atau kecurangan dalam bekerja seperti melakukan korupsi. Terus apakah korupsi hanya berupa uang saja??? Ternyata jawabannya tidak sob, korupsi dapat berupa korupsi waktu, korupsi terkait kebijakan, atau korupsi berupa manipulasi informasi publik, tidak memperhatikan kepentingan umum atau kepentingan orang lain, melakukan mark up dalam pengadaan barang dan jasa, mengulur waktu dalam pemberian pelayanan, berperilaku boros, tidak efisien, tidak memperhatikan waktu sehingga pelaksanaan tugas berlarut-larut tanpa kepastian, menganggap penerimaan uang tanda terima kasih atas pelaksanaan kewajiban sebagai sesuatu yang wajar, sekalipun pada hakekatnya hal itu adalah pemerasan pasif, dan sebagainya.
            Terus apalagi penyebab korupsi selain dorongan kebutuhan hidup? Penyebabnya adalah sikap manusia yang tidak pernah merasa puas sehingga mereka akan selalu merasa kekurangan terus meneus. Secara ilmiah penyebab korupsi adalah Power tend to Corrupt -> Power (Kekuasaan) tidak diikuti oleh Accountability atau (C=P-A); G(reed) O(pportunity), N(eed), E(xposure) atau disingkat GONE ; Monopoly kekuasaanditambah Discretion, tidak diimbangi dengan Accountability atau (C=M+D-A) (discretion adalah suatu kewenangan yang melekat pada setiap orang atau manajer untuk mengambil pilihan dari beberapa alternatif. Namun discretion yang dilakukan tanpa ada kendali akuntabilitas akan merupakan sumber korupsi).
            Nah setelah itu, kita tahu bahwa negara kita tercinta merupakan negara yang melakukan banyak korupsi. Mulai dai hal-hal yang kecil hingga korupsi yang merugikan negara sebanyak-banyaknya. Terus ciri-ciri negara korup apa aja?
1.       Voice and Accountability, mengukur kehidupan politik dan pelaksanaan Hak Asasi Manusia;
2.      Political Instability, mengukur kehidupan politik, keamanan termasuk masalah terorisme;
3.      Goverment Effectiveness, mengukur kemampuan birokrasi memberikan dengan layanan publik;
4.      Regulatory Burden, mengukur berbagai kebijaksanaan yang market- unfriendly;
5.      Rule of Law, mengukur tingkat penegakkan hukum;
6.      Control of Corruption, mengukur tindakan dalam pemberantasan korupsi.
            Nah setelah ciri-ciri tersebut kita tentu bisa mengukur seberapa besar tingkat korupsi di Indonesia. Yah, untuk mengatasi masalah seperti korupsi tentu tidaklah mudah, namun kita dapat melakukan pencegahan terhadap korupsi dengan menanamkan pada diri kita bahwa korupssi itu merugikan tidak hanya diri kita sendiri namun oang lain bahkan negara kita. Lalu ditanamkan pendidikan anti korupsi pada anak-anak sejak dini melalui pendidikan di sekolah melalui pelajaran agama dan pkn. Kita juga dapat menghindari korupsi dari hal-hal yang kecil seperti menolak uang pemberian terima kasih atas pelayanan yang kita berikan karena pada hakikatnya memang seharusnya kita memberikan pelayanan prima.   




Sumber: Hadi Lubis, Satria. 2011. Etika Profesi Pegawai Negeri Sipil Jakarta: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara




Rabu, 08 Juli 2015

Etos Kerja

Etos Kerja 



            Hai sob, sebelumnya selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Untuk mengisi waktu senggang kali ini, saya mau bicara tentang etika kerja. Mungkin terdengar aneh ditelinga kita tentang etika kerja namun jika sobat sekalian mendengar ETOS KERJA mungkin udah biasa kali ya.
            Etika kerja atau Etos mengandung pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau komunitas tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan standar-standar. Nah terus, apakah sama etos kerja di berbagai  negara seperti amerika, eropa, australia, arab, china, malayasia, singapura , dan indonesia? Tentu berbeda bukan?
            Kita semua tahu bahwa etos kerja orang Indonesia masih rendah karena berbagai permasalahan tentunya seperti kedisiplinan, kejujuran, keyakinan, ketekunan, integritas, dan lainnya. Terus gimana dong solusinya buat menumbuhkan etos kerja di diri kita masing-masing? Caranya kita tumbuhkan dalam diri kita bahwa kerja adalah rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, dan pelayanan.
            Nah terus apakah sama etika kerja atau etos kerja dengan etika profesi? Jawabannya tentu tidak sama. Namun kerangka dan prinsip-prinsip yang dicakup etika profesi tetap dapat diberlakukan sebagai etika kerja. Terus perbedaannya apa? Etika kerja meliputi professional dan non professional tapi etika profesi hanya untuk professional saja yang memiliki keahlian khusus sob. Terus ada lagi? Etika profesi atau etika profesional merupakan suatu bidang etika terapan. Etika profesi berfungsi sebagai panduan bagi para professional dalam menjalani kewajiban mereka memberikan dan mempertahankan jasa kepada masyarakat yang berstandar tinggi. Etika profesi pada dasarnya berkaitan dengan penerapan standar moral atau prinsip-prinsip etika yang telah ada ke dalam praktik kehidupan profesi. Etika profesi dikodifikasikan secara formal ke dalam bentuk kode etik atau kode perilaku profesi yang bersangkutan.
         
   Nah mungkin sekian tentang etos kerja hanya satu pesan saya untuk menumbuhkan etos kerja, tanamlah dari dirimu sendiri karena siapa yang menanam dia yang akan menuai.



Sumber: Hadi Lubis, Satria. 2011. Etika Profesi Pegawai Negeri Sipil Jakarta: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara



About Me

Diberdayakan oleh Blogger.