Senin, 13 Juli 2015
Korupsi
Korupsi
Hai sob, wah udah mau hari raya idul
fitri aja nih. Sobat semua, mohon maaf lahir dan batin ya jika selama ini saya
ada salah kata dalam postingan saya karena sejujurnya saya hanyalah manusia
biasa. Bicara tentang hari raya idul fitri pasti banyak berita tentang mudik
lebaran atau pulang ke kampung halaman bagi para perantau. Oh ya, berbicara
tentang mudik semoga teman-teman semua yang kembali ke kampung halaman selamat
sampai tujuan dan kembali lagi ke daerah rantauannya dengan selamat juga.
Berbicara tentang pulang kampung
tentu membutuhkan uang yang banyak bukan? Pertama untuk ongkos pulang kampung,
kedua untuk beli buah tangan atau oleh-oleh, ketiga untuk bagi-bagi THR bagi
sanak keluarga di kampung halaman. Nah karena himpitan kebutuhan ini, banyak
dari kita yang melakukan pelanggaran atau kecurangan dalam bekerja seperti
melakukan korupsi. Terus apakah korupsi hanya berupa uang saja??? Ternyata
jawabannya tidak sob, korupsi dapat berupa korupsi waktu, korupsi terkait
kebijakan, atau korupsi berupa manipulasi informasi publik, tidak memperhatikan
kepentingan umum atau kepentingan orang lain, melakukan mark up dalam
pengadaan barang dan jasa, mengulur waktu dalam pemberian pelayanan, berperilaku
boros, tidak efisien, tidak memperhatikan waktu sehingga pelaksanaan tugas berlarut-larut tanpa kepastian,
menganggap penerimaan uang tanda terima kasih atas pelaksanaan kewajiban
sebagai sesuatu yang wajar, sekalipun pada hakekatnya hal itu adalah pemerasan
pasif, dan sebagainya.
Terus apalagi penyebab korupsi
selain dorongan kebutuhan hidup? Penyebabnya adalah sikap manusia yang tidak
pernah merasa puas sehingga mereka akan selalu merasa kekurangan terus meneus.
Secara ilmiah penyebab korupsi adalah Power tend to Corrupt -> Power (Kekuasaan)
tidak diikuti oleh Accountability
atau (C=P-A); G(reed) O(pportunity), N(eed), E(xposure) atau
disingkat GONE ;
Monopoly kekuasaanditambah Discretion, tidak diimbangi dengan Accountability
atau (C=M+D-A) (discretion adalah suatu kewenangan yang melekat pada
setiap orang atau manajer untuk mengambil pilihan dari beberapa alternatif.
Namun discretion yang dilakukan tanpa ada kendali akuntabilitas akan
merupakan sumber korupsi).
Nah setelah itu, kita tahu bahwa
negara kita tercinta merupakan negara yang melakukan banyak korupsi. Mulai dai
hal-hal yang kecil hingga korupsi yang merugikan negara sebanyak-banyaknya.
Terus ciri-ciri negara korup apa aja?
1. Voice and Accountability, mengukur
kehidupan politik dan pelaksanaan Hak Asasi Manusia;
2. Political Instability, mengukur kehidupan politik, keamanan termasuk masalah
terorisme;
3. Goverment
Effectiveness, mengukur kemampuan birokrasi
memberikan dengan layanan publik;
4. Regulatory
Burden, mengukur berbagai kebijaksanaan yang market-
unfriendly;
5. Rule of Law, mengukur
tingkat penegakkan hukum;
6. Control
of Corruption, mengukur tindakan dalam
pemberantasan korupsi.
Nah setelah ciri-ciri tersebut kita
tentu bisa mengukur seberapa besar tingkat korupsi di Indonesia. Yah, untuk
mengatasi masalah seperti korupsi tentu tidaklah mudah, namun kita dapat
melakukan pencegahan terhadap korupsi dengan menanamkan pada diri kita bahwa
korupssi itu merugikan tidak hanya diri kita sendiri namun oang lain bahkan
negara kita. Lalu ditanamkan pendidikan anti korupsi pada anak-anak sejak dini
melalui pendidikan di sekolah melalui pelajaran agama dan pkn. Kita juga dapat
menghindari korupsi dari hal-hal yang kecil seperti menolak uang pemberian
terima kasih atas pelayanan yang kita berikan karena pada hakikatnya memang
seharusnya kita memberikan pelayanan prima.
Sumber: Hadi Lubis, Satria. 2011. Etika Profesi Pegawai Negeri Sipil Jakarta: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
- Unknown
Diberdayakan oleh Blogger.

0 komentar:
Posting Komentar